Sabtu, 15 November 2014

PENGEMBANGAN SOAL-SOAL OPEN-ENDED PADA POKOK BAHASAN BARISAN DAN DERET BILANGAN DIKELAS IX SEKOLAH MENENGAH PERTAMA



PENDAHULUAN
perubahan paradigma dalam pendidikan dan pembelajaran. Perubahan tersebut harus pula diikuti oleh guru yang bertanggungjawab atas penyelenggaraan pembelajaran di sekolah (di dalam kelas ataupun di luar kelas). Salah satu perubahan paradigma pembelajaran tersebut adalah orientasi pembelajaran yang semula berpusat pada guru (teacher-centered) beralih berpusat pada peserta didik (student centered); metodologi yang dulu lebih didominasi ekspositori berganti ke partisipori; dan pendekatan yang semula lebih banyak bersifat tekstual berubah menjadi kontekstual. Siswa sebagai center akan meletakkan siswa sebagai subjek yang melakukan proses pemahaman matematika. Guru tidak disarankan untuk memberitahu jawaban akhir atau memberitahu strategi atau cara-cara (prosedur) yang harus ditempuh siswa, melalui probing questions diharapkan siswa akan sampai kepada jawaban yang diharapkan. Untuk sampai pada situasi seperti ini, memang guru harus meiliki kemampuan problem solving dan menggiring siswa melalui teknik-teknik bertanya.
Gambaran yang tampak dalam bidang pendidikan selama ini, pembelajaran menekankan lebih pada hafalan dan mencari satu jawaban yang benar untuk soal-soal yang diberikan, proses pemikiran tinggi termasuk berpikir kreatif jarang dilatihkan. Buku pelajaran yang dipakai siswa kalau dikaji secara jujur, hampir semua soal yang dimuatnya kebanyakan hanya meliputi tugas tugas yang harus mencari satu jawaban yang benar (konvergen). Kemampuan berpikir divergen, yaitu menjajaki berbagai kemungkinan jawaban atas suatu masalah jarang diukur. Pemerintah dalam Permendiknas No 19 (2005), telah mengisyaratkan pembelajaran matematika dengan hanya memberikan soal-soal konvergen menyebabkan proses pembenaran pembelajaran yang aktif dan kreatif ditelantarkan, dan dalam satu pilar belajar disebutkan bahwa belajar itu untuk membangun dan menemukan jati, dilaksanakan melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan.Meningkatkan keterampilan pemecahan masalah merupakan tujuan utama dalam pembelajaran matematika. Dalam memecahkan masalah matematika, siswa tidak hanya menggunakan kemampuan matematika yang telah mereka miliki, tetapi juga meningkatkan pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang matematika. Hal ini mengakibatkan pemecahan masalah dalam matematika dapat digunakan sebagai dasar pembelajaran konsep-konsep matematika, sehingga siswa dapat mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri. Sementara itu, masalah-masalah matematika terbuka (open problem) sendiri hampir tidak pernah muncul dan disajikan dalam proses pembelajaran matematika di sekolah. Akibatnya bila ada soal atau permasalahan itu dianggap soal yang tidak lengkap. Padahal, soal seperti itu menuntut kreativitas siswa dalam menjawabnya karena dituntut berfikir lebih daripada hanya mengingat prosedur baku dalam menyelesaikan suatu masalah.
Untuk menanggulangi hal tersebut, didalam  pembelajaran matematika hendaknya pendekatan pemecahan masalah, yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan masalah dengan berbagai cara penyelesaian. (Permendiknas Nomor 22: 2006). Untuk mengantisipasi model-model pembelajaran pemecahan masalah seperti yang diamanatkan kurikulum. maka diperlukan adanya pemberian soal-soal open-ended. Hal ini dikarenakan untuk mengungkapkan atau menjaring manusia kreatif itu, sebaiknya menggunakan pertanyaan pertanyaan terbuka (divergen), pertanyaan yang jawabannya lebih dari satu dan tidak bisa diperkirakan sebelumnya (Russeffendi ,1988:239).Disamping itu, pertanyaan divergen menuntut yang ditanya untuk menduga, membuat hipotesis, mengecek benar tidaknya hipotesis, meninjau penyelesaian secara menyeluruh dan mengambil keputusan. Soal-soal divergen (soal open-ended) tersebut dapat berupa soal yang meminta siswa untuk menganalisis, menjelaskan, dan membuat dugaan, tidak hanya menyelesaikan, menemukan, atau menghitung.Berdasarkan uraian tersebut, peneliti akan melakukan pengembangan soal-soal open-ended pada materi barisan dan deret bilangan, yang peneliti tuangkan dalam judul penelitian “Pengembangan Soal-Soal Open-Ended pada Pokok Bahasan Barisan dan Deret Bilangan di Sekolah Menengah Pertama.
Rumusan Masalah
            Pada pembelajaran matematika dikelas IX SMPN pokok bahasan barisan dan deret bilangan siswa terpaku hanya satu rumus dalam menyelesaikan soal atau permasalahan yang berkaitan dengan pokok bahasan tersebut dan siswa mengalami kesulitan jika soal-soal tersebut dalam bentul soal aplikasi yang dikaitkan dalam kehidupanya sehari-hari.
2. Tujuan Penelitian
a.  Untuk menghasilkan soal-soal open-ended yang valid dan praktis pada pokok barisan dan deret bilangan di Sekolah Menengah Pertama
b. Untuk mengetahui efek potensial soal-soal open-ended terhadap hasil tes siswa pada     pokok bahasan barisan dan deret bilangan di Sekolah Menengah Pertama
3. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru, siswa, dan peneliti lainya :
Guru
Siswa
Peneliti lain
:
:
:
Diharapkan dapat menggunakan soal open-ended pada pokok bahasan barisan dan deret bilangan
Diharapkan dapat meningkatkan berpikir kreatif siswa, yang dapat berimbas pada peningkatan prestasi belajar matematika.
Diharapkan sebagai masukan untuk mendesain soal-soal open-ended pada pokok bahasan lainnya.
Pendekatan Open-Ended
Pendekatan open-ended dilatar belakangi oleh anggapan siswa pada pengajaran matematika yang ditemuinya selama ini. Yang menurut Schoenfeld (Takahashi,2005) ada beberapa anggapan siswa terhadap pembelajaran matematika, yaitu :
(1) Proses matematika formal hanya mempunyai sedikit atau tidak sama sekali discovery atau invention. (2) Hanya beberapa siswa yang mampu memahami materi, memecahkan tugas yang diberikan atau permaslahan matematika dalam waktu sebentar. (3) Hanya siswa genius yang benar benar memahami matematika. (4) Hanya beberapa siswa yang berhasil disekolah mengerjakan tugas, tepat, dan persis sesuai perintah guru. Melihat kenyataan tersebut, pendekatan pembelajaran matematika menurut beberapa tokoh harus dirubah, hal ini dikarenakan ”education for all” and ”Math for all”. Menurut Gtegno (Takahashi,2005) salah satu konsep yang penting dari peran guru adalah bagaimana caranya harus menstimulus siswa belajar matematika dan mendukung perkembangan mereka. Sedangkan Brown (Takahashi,2005) menyatakan bahwa siswa harus dipandang sebagai pembangun yang aktif dari pada penerima pasif .
Dari hal tersebut, muncul pendekatan open-ended yang dikembangkan di negara Jepang sejak tahun 1970an. Menurut Shimada (1997 :1) pendekatan open-ended berawal dari pandangan bagaimana mengevaluasi kemampuan siswa secara objektif dan berpikir matematika tingkat tinggi. Supaya matematika dapat disenangi dan dipelajari oleh semua siswa, maka permasalahan tertutup (closed problem) yang menuntut satu jawaban yang benar hendaknya diganti dengan permasalahan terbuka / open-ended problems. Shimada (1997:1) mengatakan pendekatan open-ended adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dimulai dari pengenalan atau menghadapkan siswa pada masalah open-ended. Masalah open ended adalah suatu permasalahan yang diformulasikan mempunyai banyak jawaban yang benar. Sedangkan pembelajaran yang menyajikan suatu permasalahan yang memiliki metode atau penyelesaian lebih dari satu disebut pembelajaran open-ended. Dengan kegiatan ini diharapkan pula dapat membawa siswa untuk menjawab permasalahan dengan banyak cara, sehingga mengundang potensi intelektual dan pengalaman siswa dalam proses menemukan sesuatu yang baru. Dengan demikian pembelajaran akan mengembangkan kemampuan memecahkan masalah matematika.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat diungkap bahwa pendekatan open-ended adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran yang dalam pelaksanaanya siswa dihadapkan dengan masalah terbuka yang menghendaki jawaban dengan banyak cara penyelesaian.
Soal Open-Ended dalam Matematika
NCTM (Vandewaele,2002) mendefenisikan masalah/soal open-ended sebagai situasi yang membiarkan siswa untuk mengalami masalah dengan angka-angka yang tidak beraturan, angka-angka yang banyak, informasi yang tidak lengkap atau mempunyai solusi-solusi ganda, masing-masing dengan konsekuensi yang berbeda. Sedangkan Shimada (1997) mendefinisikan soal open-ended adalah permasalahan yang diformulasikan mempunyai banyak jawaban yang benar.Masalah matematika terbuka (open-ended problem) dapat dikelompokkan menjadi dua tipe, yaitu: (1). Problem dengan satu jawaban banyak cara penyelesaian, yaitu soal yang diberikan kepada siswa yang mempunyai banyak solusi/cara penyelesaian akan tetapi mempunyai satu jawaban. (2). Problem banyak cara penyelesaian dan juga banyak jawaban, yaitu soal yang diberikan kepada siswa yang selain mempunyai banyak solusi/cara penyelesaian, tetapi juga mempunyai banyak jawaban. Sifat ketebukaan dari suatu masalah dikatakan hilang, apabila hanya ada satu cara dalam menjawab permasalahan yang diberikan, atau hanya ada satu jalan penyelesaian yang mungkin untuk masalah yang diberikan guru. Contoh penerapan masalah open-ended dalam kegiatan pembelajaran adalah ketika siswa diminta mengembangkan metode, cara, atau pendekatan yang berbeda dalam menjawab permasalahan yang diberikan bukan berorientasi pada jawaban.
Lebih lanjut Shimada (1997:27) mengemukakan bahwa secara umum terdapat tiga tipe masalah open-ended yang dapat diberikan, yaitu : (1) Menemukan hubungan, Soal ini diberikan bertujuan agar siswa dapat menemukan beberapa aturan atau hubungan matematis. (2) Mengklasifikasi, Siswa diminta mengklasifikasikan berdasarkan karateristik yang berbeda dari suatu objek tertentu untuk memformulasikan beberapa konsep tertentu. (3) Pengukuran, Siswa diminta untuk menentukan ukuran-ukuran numerik dari suatu kejadian tertentu. Siswa diharapkan dapat mengklasifikasikan pengetahuan dan ketrampilan yang telah dipelajari sebelumnya untuk memecahkan masalah.
Tujuan Pemberian Soal Open-Ended dalam Pembelajaran
Pemberian soal open-ended dalam pembelajaran menurut Syafrudin (2008) bertujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh pengetahuan, pengalaman menemukan, mengenali, dan memecahkan masalah dengan beberapa strategi. Siswa yang dihadapkan dengan open-ended problem, tujuan utamanya bukan untuk mendapatkan jawaban, tetapi lebih menekankan pada cara bagaimana sampai pada suatu jawaban.Shimada (1997) mengatakan bahwa pemberian soal open-ended dalam pembelajaran matematika dapat merangsang kemampuan intelektual dan pengalaman siswa dalam proses menemukan sesuatu yang baru. Sedangkan menurut Nohda (2001), dengan pemberian soal open-ended dapat membantu mengembangkan kegiatan kreatif dan pola pikir matematika siswa melalui melalui problem posing secara simultan. Dengan kata lain kegiatan kreatif dan pola pikir matematika siswa dapat dikembangkan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan setiap siswa.
Ketika siswa dihadapkan pada soal open-ended tujuannya bukan hanya berorientasi pada mendapatkan jawaban atau hasil akhir tetapi lebih menekankan pada bagaimana siswa sampai pada suatu jawaban, siswa dapat mengembangkan metode, cara atau pendekatan berbeda untuk menyelesaikan masalah. Dalam pelaksanaannya hal tersebut memberikan peluang pada siswa untuk menyelidiki dengan metode yang mereka yakini, dan memberikan kemungkinan pengerjaan dengan ketelitian yang lebih besar dalam pemecahan masalah matematika. Sebagai hasilnya, dimungkinkan untuk mempunyai suatu pengembangan yang lebih kaya dalam pemikiran matematika siswa, serta membantu perkembangan aktivitas dan kreatif dari siswa.
Beberapa keunggulan pendekatan open-ended menurut Takahashi (2005): (1) Siswa mengambil bagian lebih aktif dalam pembelajaran, dan sering menyatakan ide-ide mereka. (2) Siswa mempunyai lebih banyak peluang menggunakan pengetahuan dan keterampilan matematis mereka. (3) Siswa dengan kemampuan rendah bisa memberikan reaksi terhadap masalah dengan beberapa cara signifikan dari milik mereka sendiri. (4) Mendorong Siswa untuk memberikan bukti. (5) Siswa mempunyai pengalaman yang kaya dan senang atas penemuan mereka dan menerima persetujuan temannya. Berdasarkan uraian diatas, maka dapat diungkap bahwa tujuan dari pemberian soal open-ended dalam pembelajaran matematika adalah agar kemampuan berpikir matematika siswa dapat berkembang secara maksimal, melalui berbagai strategi dan cara yang diyakininya dalam menyelesaikan masalah, sehingga membantu perkembangan aktivitas dan kreatifitas siswa.

Mengkonstruksi Soal open-ended
Beberapa acuan dalam mengkonstruksi soal open-ended menurut Suherman (2003:129) adalah sebagai berikut : (1) Menyajikan permasalahan melalui situasi fisik yang nyata, dimana konsep konsep matematika dapat diamati dan dikaji oleh siswa (2) Menyajikan soal-soal pembuktian dapat dirubah sedemikian rupa, sehingga siswa dapat menemukan hubungan dan sifat sifat dari variabel dalam persoalan tersebut. (3) Menyajikan bentuk bentuk atau bangun geometri sehingga siswa dapat membuat konjektur (4) Menyajikan urutan bilangan atau tabel sehingga siswa dapat menemukan aturan matematika (5) Memberikan beberapa contoh kongkrit dalam beberapa kategori, sehingga siswa bisa mengkolaborasikan sifat sifat dari contoh itu, untuk menemukan sifat yang umum (6) Memberikan beberapa latihan serupa, sehingga siswa dapat menggeneralisasi dari pekerjaannnya.
Dalam mengkonstruksi soal open-ended harus memenuhi beberapa syarat, Yang utama adalah soal tersebut memuat banyak cara penyelesaian dengan satu jawaban atau banyak jawaban, selanjutnya soal harus memenuhi kriteria, yaitu soal kaya dengan konsep, sesuai dengan level siswa, dan mengundang pengembangan konsep lebih lanjut. Serta dalam pembuatan soal open-ended, dianjurkan untuk guru menuliskan kemungkinan respon jawaban siswa terhadap soal tersebut.
METODE PENELITIAN
Subjek Penelitian dan Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan pada semester genap tahun pelajaran 2014/2015. Subjek penelitian adalah siswa kelas IX SMP Negeri 37 di Kabupaten OKU yang berjumlah 32 siswa, yang terdiri dari 18 orang laki-laki dan 14 orang perempuan.
Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian pengembangan atau development research tipe formative research (Tessmer,1999). Penelitian ini mengembangkan soal-soal open-ended yang valid dan praktis dalam pembelajaran matematika pokok bahasan barisan dan deret ilangan di kelas IX SMP, melalui beberapa tahap, sebagai berikut
Prosedur Penelitian
Analisis
Pada tahap analisis ini, merupakan langkah awal penelitian pengembangan. Pada tahap ini dilakukan analisis terhadap kurikulum dan buku paket/pegangan siswa, kemudian menentukan tempat dan subjek penelitian dengan cara menghubungi Kepala Sekolah dan guru mata pelajaran matematika di sekolah yang akan dijadikan lokasi penelitian serta mengadakan persiapan-persiapan lainnya, seperti mengatur jadwal penelitian dan prosedur kerjasama dengan guru kelas yang akan dijadikan tempat penelitian.


Desain
Pada tahapan ini akan dilakukan pendesainan kisi kisi, kartu soal, dan soal-soal open-ended pada pokok bahasan barisan dan deret bilangan di kelas IX SMP. Desain produk ini sebagai prototype. Masing-masing prototype fokus pada tiga karakteristik yaitu : content, konstruk dan bahasa.
Karakteristik yang menjadi Fokus Prototype
Content
Soal open-ended harus sesuai dengan :
 Kompetensi Dasar
 Indikator
Konstruk
Soal yang dibuat harus sesuai dengan teori dan kriteria soal open-ended, yaitu :
 Mempunyai banyak cara penyelesaian
 Kaya dengan konsep yang berharga
 Sesuai dengan level siswa kelas IX SMP
 Mengundang pengembangan konsep lebih lanjut
Bahasa
 Rumusan kalimat komunikatif.
 Kalimat menggunakan bahasa yang baik dan benar, serta sesuai EYD.
 Rumusan kalimat tidak menimbulkan penafsiran ganda atau salah pengertian.
 Rumusan soal tidak mengandung kata-kata yang dapat menyinggung siswa.
Tes Soal Open-Ended
                        Untuk memperoleh data tentang efek soal open-ended terhadap hasil belajar siswa, maka digunakan tes. Tes akan dilakukan terhadap siswa pada subjek penelitian untuk melihat efek soal open-ended terhadap hasil belajar siswa. Tes ini akan dilakukan untuk melihat jawaban siswa terhadap soal open-ended yang diberikan, berdasarkan kriteria sebagai berikut : (1) Kelancaran berpikir (fluency), yaitu kemampuan untuk menghasilkan banyak ide / gagasan. (2)Keluwesan (flexibility), yaitu kemampuan untuk mengajukan bermacam macam pendekatan atau jalan pemecahan terhadap permasalahan. (Munandar, 1999:88)
2. Teknik Analisis Data
a. Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif ini digunakan untuk menganalisis data validasi ahli dengan cara merevisi berdasarkan wawancara atau catatan validator, dan pemeriksaan dokumen soal open-ended oleh validator dan guru one to one. Hasil dari analisis akan digunakan untuk merevisi soal-soal yang dibuat oleh peneliti.
 Analisis deskriptif ini juga digunakan untuk menganalisis data kepraktisan soal-soal open-ended, yang didapat berdasarkan hasil tes dan tanggapan selama siswa small group mengerjakan soal open-ended. Hasil dari analisis juga akan digunakan untuk merevisi soal-soal yang dibuat oleh peneliti.




b. Analisis Data Tes Soal Open-Ended
Analisis data tes soal open-ended ini digunakan untuk melihat efek dari soal open-ended terhadap hasil belajar siswa. Data tes soal open-ended yang diberikan kepada siswa, selanjutnya diberikan penskoran tehadap jawaban siswa berdarkan kriteria berikut:
c. Validitas dan Reliabilitas
(1). Validitas Butir Soal.
Sebelum soal diujicobakan pada small group, soal diujikan pada siswa non subjek penelitian dan hasilnya digunakan untuk melihat validitas soal tersebut secara deskriptif kuantitatif. Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi, sebaliknya instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas yang rendah (Arikunto, 2002:144). Pada penelitian ini penulis menggunakan uji validitas dengan rumus Korelasi Product Momen (Arikunto, 2002:46) dan mengkategorikannya berdasarkan rumus Guilford J.P dalam Suherman (2003) dan juga menggunakan keberartian dari koefisien validasi digunakan uji-t seperti yang dikemukakan Sudjana(2002:380)
 (2). Reliabilitas
Menunjuk pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. (Arikunto, 2002:154). Pada penelitian ini penulis menggunakan uji reliabilitas untuk soal bentuk uraian yaitu dengan menggunakan rumus Alpha (Arikunto, 2002: 171)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Hasil Tes Pertama Siswa
Data hasil tes pertama soal open-ended dianalisis untuk menentukan rata-rata nilai seluruh siswa pada tes pertama, data lengkap analisis ulangan harian dapat dilihat pada lampiran. Data kemudian dikonversikan kedalam tabel berikut :
Tabel
Hasil Tes Pertama Siswa
No
Nilai
Frekuensi
%
1
2
3
4
5
80 - 100
60 - 79
40 - 59
20 - 39
0 -19
5
17
1
9
0
15.62
53.12
3.13
28.13
0
Jumlah
32
100
Dari tabel 23 diatas, terlihat bahwa pada hasil tes pertama siswa terdapat 68.74% siswa mencapai nilai ≥ 60, artinya sebanyak 68.74% siswa mencapai ketuntasan pada tes pertama, dan 31.26 % siswa belum mencapai ketuntasan.
Analisis Hasil Tes Kedua Siswa
Data hasil tes kedua soal open-ended dianalisis untuk menentukan rata-rata nilai seluruh siswa pada tes kedua, data lengkap analisis ulangan harian dapat dilihat pada lampiran. Data kemudian dikonversikan kedalam tabel berikut :




Tabel
Hasil Tes Kedua Siswa
No
Nilai
Frekuensi
%
1
2
3
4
5
80 - 100
60 - 79
40 - 59
20 - 39
0 -19
11
13
0
7
1
34.38
40.62
0
21.88
3.12
Jumlah
35
100
Dari tabel 31 diatas, terlihat bahwa pada hasil tes kedua siswa terdapat 75 % siswa mencapai nilai ≥ 60, artinya sebanyak 75 % siswa mencapai ketuntasan pada tes kedua, dan 25,7 % siswa belum mencapai ketuntasan.