PENDAHULUAN
perubahan
paradigma dalam pendidikan dan pembelajaran. Perubahan tersebut harus pula
diikuti oleh guru yang bertanggungjawab atas penyelenggaraan pembelajaran di
sekolah (di dalam kelas ataupun di luar kelas). Salah satu perubahan paradigma
pembelajaran tersebut adalah orientasi pembelajaran yang semula berpusat pada
guru (teacher-centered) beralih
berpusat pada peserta didik (student centered);
metodologi yang dulu lebih didominasi ekspositori
berganti ke partisipori; dan
pendekatan yang semula lebih banyak bersifat tekstual berubah menjadi kontekstual.
Siswa sebagai center akan meletakkan siswa sebagai subjek yang melakukan proses
pemahaman matematika. Guru tidak disarankan untuk memberitahu jawaban akhir
atau memberitahu strategi atau cara-cara (prosedur) yang harus ditempuh siswa,
melalui probing questions diharapkan
siswa akan sampai kepada jawaban yang diharapkan. Untuk sampai pada situasi
seperti ini, memang guru harus meiliki kemampuan problem solving dan menggiring siswa melalui teknik-teknik
bertanya.
Gambaran yang tampak dalam bidang pendidikan selama ini, pembelajaran
menekankan lebih pada hafalan dan mencari satu jawaban yang benar untuk
soal-soal yang diberikan, proses pemikiran tinggi termasuk berpikir kreatif
jarang dilatihkan. Buku pelajaran yang dipakai siswa kalau dikaji secara jujur,
hampir semua soal yang
dimuatnya kebanyakan hanya meliputi tugas tugas yang harus mencari satu jawaban
yang benar (konvergen). Kemampuan berpikir divergen, yaitu menjajaki berbagai
kemungkinan jawaban atas suatu masalah jarang diukur. Pemerintah dalam
Permendiknas No 19 (2005), telah mengisyaratkan pembelajaran matematika dengan
hanya memberikan soal-soal konvergen menyebabkan proses pembenaran pembelajaran
yang aktif dan kreatif ditelantarkan, dan dalam satu pilar belajar disebutkan
bahwa belajar itu untuk membangun dan menemukan jati, dilaksanakan melalui
proses pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan.Meningkatkan keterampilan pemecahan
masalah merupakan tujuan utama dalam pembelajaran matematika. Dalam memecahkan
masalah matematika, siswa tidak hanya menggunakan kemampuan matematika yang
telah mereka miliki, tetapi juga meningkatkan pengetahuan dan pemahaman yang
mendalam tentang matematika. Hal ini mengakibatkan pemecahan masalah dalam
matematika dapat digunakan sebagai dasar pembelajaran konsep-konsep matematika,
sehingga siswa dapat mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri. Sementara itu,
masalah-masalah matematika terbuka (open problem) sendiri hampir tidak
pernah muncul dan disajikan dalam proses pembelajaran matematika di sekolah.
Akibatnya bila ada soal atau permasalahan itu dianggap soal yang tidak lengkap.
Padahal, soal seperti itu menuntut kreativitas siswa dalam menjawabnya karena
dituntut berfikir lebih daripada hanya mengingat prosedur baku dalam
menyelesaikan suatu masalah.
Untuk menanggulangi hal tersebut, didalam
pembelajaran matematika hendaknya pendekatan pemecahan masalah, yang
mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah terbuka dengan solusi
tidak tunggal, dan masalah dengan berbagai cara penyelesaian. (Permendiknas
Nomor 22: 2006). Untuk mengantisipasi model-model pembelajaran pemecahan masalah
seperti yang diamanatkan kurikulum. maka diperlukan adanya pemberian soal-soal open-ended. Hal ini dikarenakan untuk
mengungkapkan atau menjaring manusia kreatif itu, sebaiknya menggunakan pertanyaan
pertanyaan terbuka (divergen), pertanyaan yang jawabannya lebih dari satu dan
tidak bisa diperkirakan sebelumnya (Russeffendi ,1988:239).Disamping itu,
pertanyaan divergen menuntut yang ditanya untuk menduga, membuat hipotesis,
mengecek benar tidaknya hipotesis, meninjau penyelesaian secara menyeluruh dan
mengambil keputusan. Soal-soal divergen (soal open-ended) tersebut dapat berupa soal yang meminta siswa untuk
menganalisis, menjelaskan, dan membuat dugaan, tidak hanya menyelesaikan,
menemukan, atau menghitung.Berdasarkan uraian tersebut, peneliti akan melakukan
pengembangan soal-soal open-ended
pada materi barisan
dan deret bilangan, yang peneliti tuangkan dalam judul penelitian “Pengembangan Soal-Soal Open-Ended pada Pokok Bahasan Barisan dan Deret Bilangan di Sekolah Menengah Pertama.
Rumusan Masalah
Pada pembelajaran matematika dikelas
IX SMPN pokok bahasan barisan dan deret
bilangan siswa terpaku hanya satu rumus dalam menyelesaikan soal atau
permasalahan yang berkaitan dengan pokok bahasan tersebut dan siswa mengalami
kesulitan jika soal-soal tersebut dalam bentul soal aplikasi yang dikaitkan
dalam kehidupanya sehari-hari.
2. Tujuan Penelitian
a. Untuk menghasilkan soal-soal open-ended yang valid dan praktis pada
pokok barisan
dan deret bilangan di Sekolah Menengah Pertama
b. Untuk mengetahui efek potensial
soal-soal open-ended terhadap hasil
tes siswa pada pokok bahasan barisan dan deret bilangan di Sekolah Menengah Pertama
3. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru, siswa, dan peneliti lainya :
|
Guru
Siswa
Peneliti lain
|
:
:
:
|
Diharapkan dapat menggunakan soal open-ended pada pokok bahasan barisan dan deret bilangan
Diharapkan dapat meningkatkan berpikir kreatif siswa,
yang dapat berimbas pada peningkatan prestasi belajar matematika.
Diharapkan sebagai masukan untuk mendesain soal-soal open-ended pada pokok bahasan
lainnya.
|
Pendekatan
Open-Ended
Pendekatan open-ended
dilatar belakangi oleh anggapan siswa pada pengajaran matematika yang
ditemuinya selama ini. Yang menurut Schoenfeld (Takahashi,2005) ada beberapa
anggapan siswa terhadap pembelajaran matematika, yaitu :
(1) Proses matematika formal hanya mempunyai sedikit atau
tidak sama sekali discovery atau invention. (2) Hanya beberapa siswa yang mampu
memahami materi, memecahkan tugas yang diberikan atau permaslahan matematika
dalam waktu sebentar. (3) Hanya siswa genius yang benar benar memahami
matematika. (4) Hanya beberapa siswa yang berhasil disekolah mengerjakan tugas,
tepat, dan persis sesuai perintah guru. Melihat kenyataan tersebut, pendekatan
pembelajaran matematika menurut beberapa tokoh harus dirubah, hal ini
dikarenakan ”education for all” and ”Math for all”. Menurut Gtegno
(Takahashi,2005) salah satu konsep yang penting dari peran guru adalah
bagaimana caranya harus menstimulus siswa belajar matematika dan mendukung
perkembangan mereka. Sedangkan Brown (Takahashi,2005) menyatakan bahwa siswa
harus dipandang sebagai pembangun yang aktif dari pada penerima pasif .
Dari hal tersebut, muncul pendekatan open-ended yang
dikembangkan di negara Jepang sejak tahun 1970an. Menurut Shimada (1997 :1)
pendekatan open-ended berawal dari
pandangan bagaimana mengevaluasi kemampuan siswa secara objektif dan berpikir
matematika tingkat tinggi. Supaya matematika dapat disenangi dan dipelajari
oleh semua siswa, maka permasalahan tertutup (closed problem) yang menuntut satu jawaban yang benar hendaknya
diganti dengan permasalahan terbuka / open-ended
problems. Shimada (1997:1) mengatakan pendekatan open-ended adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dimulai dari
pengenalan atau menghadapkan siswa pada masalah open-ended. Masalah open
ended adalah suatu permasalahan yang diformulasikan mempunyai banyak
jawaban yang benar. Sedangkan pembelajaran yang menyajikan suatu permasalahan yang
memiliki metode atau penyelesaian lebih dari satu disebut pembelajaran open-ended. Dengan kegiatan ini
diharapkan pula dapat membawa siswa untuk menjawab permasalahan dengan banyak
cara, sehingga mengundang potensi intelektual dan pengalaman siswa dalam proses
menemukan sesuatu yang baru. Dengan demikian pembelajaran akan mengembangkan
kemampuan memecahkan masalah matematika.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat diungkap bahwa pendekatan open-ended adalah suatu pendekatan dalam
pembelajaran yang dalam pelaksanaanya siswa dihadapkan dengan masalah terbuka
yang menghendaki jawaban dengan banyak cara penyelesaian.
Soal Open-Ended dalam Matematika
NCTM
(Vandewaele,2002) mendefenisikan masalah/soal open-ended sebagai situasi yang membiarkan siswa untuk mengalami
masalah dengan angka-angka yang tidak beraturan, angka-angka yang banyak,
informasi yang tidak lengkap atau mempunyai solusi-solusi ganda, masing-masing
dengan konsekuensi yang berbeda. Sedangkan Shimada (1997) mendefinisikan soal open-ended adalah permasalahan yang
diformulasikan mempunyai banyak jawaban yang benar.Masalah matematika terbuka (open-ended problem) dapat dikelompokkan
menjadi dua tipe, yaitu: (1). Problem dengan satu jawaban banyak cara
penyelesaian, yaitu soal yang diberikan kepada siswa yang mempunyai banyak
solusi/cara penyelesaian akan tetapi mempunyai satu jawaban. (2). Problem
banyak cara penyelesaian dan juga banyak jawaban, yaitu soal yang diberikan
kepada siswa yang selain mempunyai banyak solusi/cara penyelesaian, tetapi juga
mempunyai banyak jawaban. Sifat ketebukaan dari suatu masalah dikatakan hilang,
apabila hanya ada satu cara dalam menjawab permasalahan yang diberikan, atau
hanya ada satu jalan penyelesaian yang mungkin untuk masalah yang diberikan
guru. Contoh penerapan masalah open-ended
dalam kegiatan pembelajaran adalah ketika siswa diminta mengembangkan metode,
cara, atau pendekatan yang berbeda dalam menjawab permasalahan yang diberikan
bukan berorientasi pada jawaban.
Lebih lanjut Shimada (1997:27)
mengemukakan bahwa secara umum terdapat tiga tipe masalah open-ended yang dapat diberikan, yaitu : (1) Menemukan hubungan, Soal ini diberikan
bertujuan agar siswa dapat menemukan beberapa aturan atau hubungan matematis. (2) Mengklasifikasi, Siswa diminta
mengklasifikasikan berdasarkan karateristik yang berbeda dari suatu objek
tertentu untuk memformulasikan beberapa konsep tertentu. (3) Pengukuran,
Siswa diminta untuk menentukan ukuran-ukuran numerik dari suatu kejadian
tertentu. Siswa diharapkan dapat mengklasifikasikan pengetahuan dan ketrampilan
yang telah dipelajari sebelumnya untuk memecahkan masalah.
Tujuan
Pemberian Soal Open-Ended dalam
Pembelajaran
Pemberian soal open-ended dalam
pembelajaran menurut Syafrudin (2008) bertujuan memberikan kesempatan kepada
siswa untuk memperoleh pengetahuan, pengalaman menemukan, mengenali, dan
memecahkan masalah dengan beberapa strategi. Siswa yang dihadapkan dengan open-ended problem, tujuan utamanya
bukan untuk mendapatkan jawaban, tetapi lebih menekankan pada cara bagaimana
sampai pada suatu jawaban.Shimada (1997) mengatakan bahwa pemberian soal open-ended dalam pembelajaran matematika
dapat merangsang kemampuan intelektual dan pengalaman siswa dalam proses
menemukan sesuatu yang baru. Sedangkan menurut Nohda (2001), dengan pemberian
soal open-ended dapat membantu
mengembangkan kegiatan kreatif dan pola pikir matematika siswa melalui melalui problem posing secara simultan. Dengan
kata lain kegiatan kreatif dan pola pikir matematika siswa dapat dikembangkan
semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan setiap siswa.
Ketika siswa dihadapkan pada soal open-ended
tujuannya bukan hanya berorientasi pada mendapatkan jawaban atau hasil
akhir tetapi lebih menekankan pada bagaimana siswa sampai pada suatu jawaban,
siswa dapat mengembangkan metode, cara atau pendekatan berbeda untuk
menyelesaikan masalah. Dalam pelaksanaannya hal tersebut memberikan peluang pada
siswa untuk menyelidiki dengan metode yang mereka yakini, dan memberikan
kemungkinan pengerjaan dengan ketelitian yang lebih besar dalam pemecahan
masalah matematika. Sebagai hasilnya, dimungkinkan untuk mempunyai suatu
pengembangan yang lebih kaya dalam pemikiran matematika siswa, serta membantu
perkembangan aktivitas dan kreatif dari siswa.
Beberapa keunggulan pendekatan open-ended
menurut Takahashi (2005): (1) Siswa mengambil bagian lebih aktif dalam
pembelajaran, dan sering menyatakan ide-ide mereka. (2) Siswa mempunyai lebih
banyak peluang menggunakan pengetahuan dan keterampilan matematis mereka. (3)
Siswa dengan kemampuan rendah bisa memberikan reaksi terhadap masalah dengan
beberapa cara signifikan dari milik mereka sendiri. (4) Mendorong Siswa untuk
memberikan bukti. (5) Siswa mempunyai pengalaman yang kaya dan senang atas
penemuan mereka dan menerima persetujuan temannya. Berdasarkan
uraian diatas, maka dapat diungkap bahwa tujuan dari pemberian soal open-ended dalam pembelajaran matematika
adalah agar kemampuan berpikir matematika siswa dapat berkembang secara
maksimal, melalui berbagai strategi dan cara yang diyakininya dalam
menyelesaikan masalah, sehingga membantu perkembangan aktivitas dan kreatifitas
siswa.
Mengkonstruksi
Soal open-ended
Beberapa acuan dalam mengkonstruksi soal open-ended menurut Suherman (2003:129)
adalah sebagai berikut : (1) Menyajikan permasalahan melalui situasi fisik yang
nyata, dimana konsep konsep matematika dapat diamati dan dikaji oleh siswa (2)
Menyajikan soal-soal pembuktian dapat dirubah sedemikian rupa, sehingga siswa
dapat menemukan hubungan dan sifat sifat dari variabel dalam persoalan
tersebut. (3) Menyajikan bentuk bentuk atau bangun geometri sehingga siswa
dapat membuat konjektur (4) Menyajikan urutan bilangan atau tabel sehingga
siswa dapat menemukan aturan matematika (5) Memberikan beberapa contoh kongkrit
dalam beberapa kategori, sehingga siswa bisa mengkolaborasikan sifat sifat dari
contoh itu, untuk menemukan sifat yang umum (6) Memberikan beberapa latihan
serupa, sehingga siswa dapat menggeneralisasi dari pekerjaannnya.
Dalam mengkonstruksi soal open-ended harus memenuhi beberapa syarat, Yang utama adalah soal
tersebut memuat banyak cara penyelesaian dengan satu jawaban atau banyak
jawaban, selanjutnya soal harus memenuhi kriteria, yaitu soal kaya dengan
konsep, sesuai dengan level siswa, dan mengundang pengembangan konsep lebih
lanjut. Serta dalam pembuatan soal open-ended,
dianjurkan untuk guru menuliskan kemungkinan respon jawaban siswa terhadap soal
tersebut.
METODE PENELITIAN
Subjek Penelitian dan Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan pada semester genap tahun pelajaran
2014/2015. Subjek
penelitian adalah siswa kelas IX SMP Negeri 37 di Kabupaten OKU yang berjumlah
32 siswa, yang terdiri dari 18 orang laki-laki dan 14 orang perempuan.
Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode
penelitian pengembangan atau development
research tipe formative research
(Tessmer,1999). Penelitian ini mengembangkan soal-soal open-ended yang valid dan praktis dalam pembelajaran matematika
pokok bahasan barisan
dan deret ilangan di kelas IX SMP, melalui beberapa tahap, sebagai berikut
Prosedur
Penelitian
Analisis
Pada tahap analisis ini, merupakan langkah awal penelitian pengembangan. Pada tahap ini
dilakukan analisis terhadap kurikulum dan buku paket/pegangan siswa, kemudian
menentukan tempat dan subjek penelitian dengan cara menghubungi Kepala Sekolah
dan guru mata pelajaran matematika di sekolah yang akan dijadikan lokasi
penelitian serta mengadakan persiapan-persiapan lainnya, seperti mengatur
jadwal penelitian dan prosedur kerjasama dengan guru kelas yang akan dijadikan
tempat penelitian.
Desain
Pada tahapan ini akan dilakukan pendesainan kisi kisi, kartu soal, dan
soal-soal open-ended pada pokok bahasan barisan dan deret bilangan di kelas IX SMP. Desain produk ini sebagai prototype. Masing-masing prototype fokus pada tiga karakteristik
yaitu : content, konstruk dan bahasa.
Karakteristik
yang menjadi Fokus Prototype
|
Content
|
Soal open-ended
harus sesuai dengan :
Kompetensi Dasar
Indikator
|
|
Konstruk
|
Soal yang dibuat harus sesuai dengan teori dan kriteria
soal open-ended, yaitu :
Mempunyai banyak cara penyelesaian
Kaya dengan konsep yang berharga
Sesuai dengan level siswa kelas IX SMP
Mengundang pengembangan konsep lebih lanjut
|
|
Bahasa
|
Rumusan kalimat komunikatif.
Kalimat menggunakan bahasa yang baik dan benar, serta
sesuai EYD.
Rumusan kalimat tidak menimbulkan penafsiran ganda
atau salah pengertian.
Rumusan soal tidak mengandung kata-kata yang dapat
menyinggung siswa.
|
Tes Soal Open-Ended
Untuk
memperoleh data tentang efek soal open-ended terhadap hasil belajar
siswa, maka digunakan tes. Tes akan dilakukan terhadap siswa pada subjek
penelitian untuk melihat efek soal open-ended terhadap hasil belajar
siswa. Tes ini akan dilakukan untuk melihat jawaban siswa terhadap soal open-ended
yang diberikan, berdasarkan kriteria sebagai berikut : (1) Kelancaran berpikir (fluency),
yaitu kemampuan untuk menghasilkan banyak ide / gagasan. (2)Keluwesan (flexibility),
yaitu kemampuan untuk mengajukan bermacam macam pendekatan atau jalan pemecahan
terhadap permasalahan. (Munandar, 1999:88)
2. Teknik Analisis Data
a. Analisis
Deskriptif
Analisis deskriptif ini digunakan untuk
menganalisis data validasi ahli dengan cara merevisi berdasarkan
wawancara atau catatan validator, dan pemeriksaan dokumen soal open-ended
oleh validator dan guru one to one. Hasil dari analisis akan digunakan
untuk merevisi soal-soal yang dibuat oleh peneliti.
Analisis
deskriptif ini juga digunakan untuk menganalisis data kepraktisan soal-soal open-ended,
yang didapat berdasarkan hasil tes dan tanggapan selama siswa small group
mengerjakan soal open-ended. Hasil dari analisis juga akan digunakan
untuk merevisi soal-soal yang dibuat oleh peneliti.
b. Analisis Data Tes Soal Open-Ended
Analisis
data tes soal open-ended ini digunakan untuk melihat efek dari soal open-ended
terhadap hasil belajar siswa. Data tes soal open-ended yang diberikan
kepada siswa, selanjutnya diberikan penskoran tehadap jawaban siswa berdarkan
kriteria berikut:
c. Validitas dan Reliabilitas
(1). Validitas Butir Soal.
Sebelum
soal diujicobakan pada small group,
soal diujikan pada siswa non subjek penelitian dan hasilnya digunakan untuk
melihat validitas soal tersebut secara deskriptif kuantitatif. Validitas adalah
suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan suatu instrumen. Suatu
instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi, sebaliknya
instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas yang rendah (Arikunto,
2002:144). Pada penelitian ini penulis menggunakan uji validitas dengan rumus
Korelasi Product Momen (Arikunto, 2002:46) dan mengkategorikannya berdasarkan
rumus Guilford J.P dalam Suherman (2003) dan juga menggunakan keberartian dari
koefisien validasi digunakan uji-t seperti yang dikemukakan Sudjana(2002:380)
(2).
Reliabilitas
Menunjuk
pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk
digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik.
(Arikunto, 2002:154). Pada penelitian ini penulis menggunakan uji reliabilitas
untuk soal bentuk uraian yaitu dengan menggunakan rumus Alpha (Arikunto,
2002: 171)
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Analisis Hasil
Tes Pertama Siswa
Data hasil tes pertama soal open-ended
dianalisis untuk menentukan rata-rata nilai seluruh siswa pada tes pertama,
data lengkap analisis ulangan harian dapat dilihat pada lampiran. Data kemudian
dikonversikan kedalam tabel berikut :
Tabel
Hasil Tes
Pertama Siswa
|
No
|
Nilai
|
Frekuensi
|
%
|
|
1
2
3
4
5
|
80 - 100
60 - 79
40 - 59
20 - 39
0 -19
|
5
17
1
9
0
|
15.62
53.12
3.13
28.13
0
|
|
Jumlah
|
32
|
100
|
|
Dari tabel 23 diatas,
terlihat bahwa pada hasil tes pertama siswa terdapat 68.74% siswa mencapai nilai ≥ 60, artinya
sebanyak 68.74% siswa
mencapai ketuntasan pada tes pertama, dan 31.26 % siswa belum mencapai ketuntasan.
Analisis Hasil
Tes Kedua Siswa
Data hasil tes kedua soal open-ended
dianalisis untuk menentukan rata-rata nilai seluruh siswa pada tes kedua, data
lengkap analisis ulangan harian dapat dilihat pada lampiran. Data kemudian
dikonversikan kedalam tabel berikut :
Tabel
Hasil Tes Kedua
Siswa
|
No
|
Nilai
|
Frekuensi
|
%
|
|
1
2
3
4
5
|
80 - 100
60 - 79
40 - 59
20 - 39
0 -19
|
11
13
0
7
1
|
34.38
40.62
0
21.88
3.12
|
|
Jumlah
|
35
|
100
|
|
Dari tabel 31 diatas,
terlihat bahwa pada hasil tes kedua siswa terdapat 75 % siswa mencapai nilai ≥ 60, artinya
sebanyak 75 % siswa
mencapai ketuntasan pada tes kedua, dan 25,7 % siswa belum mencapai ketuntasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar